Tentang Kami

Tentang Ebi Nusantara

Beranda โ€บ Tentang Kami
Indragiri Hilir, Riau
Sejak Abad ke-19
Langsung dari Nelayan Suku Duano
Asal Usul Kami

Dari Pesisir Indragiri Hilir

Ebi Nusantara lahir dari bumi Kabupaten Indragiri Hilir, Riau โ€” bentang alam pesisir yang terbentuk dari interaksi dinamis antara daratan rendah, sistem sungai, hutan bakau yang lebat, dan lautan lepas. Wilayah ini secara historis adalah salah satu kawasan penangkapan udang paling produktif di Asia Tenggara.

Catatan perdagangan akhir abad ke-19 membuktikan bahwa ekspor udang kering (ebi) dari perairan Riau sudah dikenal hingga pasar Singapura dan Malaysia. Warisan panjang itulah yang menjadi fondasi kami hari ini.

Abad ke-6
Sejarah Wilayah Mulai Tercatat
1898
Ekspor Ebi Riau Terdokumentasi
200 Rb+
Kg Ebi Diekspor per Tahun (1904)
14+ Th
Pengalaman Kami di Industri Ini
Logo Ebi Nusantara

Negeri Seribu Parit

Indragiri Hilir โ€” lumbung pangan laut kering terbesar di kawasan Selat Malaka sejak abad ke-19.

๐Ÿ“ Kec. Concong Luar
Sentra pembuatan ebi turun-temurun
๐Ÿ“ Desa Kuala Enok
Kec. Tanah Merah โ€” ebi berkualitas tinggi
๐Ÿ“ Tembilahan
Pusat distribusi amplang & olahan ebi
Akar Budaya

Suku Duano โ€” Penjaga Laut Kami

Kearifan Lokal yang Kami Jaga

Rantai nilai olahan ebi di Indragiri Hilir sangat bergantung pada komunitas Suku Duano โ€” suku yang hidup di antara batas pasang surut air laut. Mereka adalah tulang punggung penangkapan udang rebon sejak berabad-abad lalu.

Dengan keahlian navigasi dan penangkapan biota estuari yang sangat spesifik, Suku Duano menangkap udang rebon menggunakan alat tradisional yang ramah lingkungan. Kami berkomitmen bermitra langsung dengan komunitas ini, memastikan kesejahteraan mereka ikut meningkat.

Alat Tangkap Tradisional
๐Ÿช
Tuguk Jaring statis dipasang mengikuti arus pasang surut โ€” ramah lingkungan dan efisien
๐Ÿšฃ
Sondong Jaring yang diikat pada dua batang kayu di lambung perahu, digerakkan manual
๐Ÿ’ก Udang rebon dipilih karena seluruh bagian tubuhnya dapat digunakan tanpa pembuangan cangkang keras secara individual โ€” sangat bernilai ekonomis untuk industri rumah tangga.
Cara Kami Bekerja

Proses Pembuatan Ebi Kami

Teknik pengolahan turun-temurun yang kini diperkuat dengan inovasi mesin salai berbasis energi listrik โ€” tanpa bahan pengawet, tanpa perantara.

1
๐Ÿชฃ

Pencucian

Udang rebon segar dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran dan lumpur yang melekat dari hasil tangkapan laut.

2
๐Ÿ”ฅ

Perebusan

Direbus dalam air mendidih 90โ€“100ยฐC selama 15โ€“30 menit dengan penambahan garam sekitar 5% untuk mematangkan sempurna.

3
โšก

Pengeringan Mesin Salai

Menggunakan mesin salai bertenaga listrik PLN โ€” inovasi lokal yang memangkas waktu pengeringan dari 8 hari menjadi hanya beberapa jam.

4
๐ŸฅŠ

Pemisahan Kulit

Udang kering dimasukkan ke karung goni lalu dipukul perlahan agar cangkang tipis dan kepala terkelupas dari dagingnya.

5
๐Ÿงบ

Penampian

Ditapis menggunakan tampah bambu berulang kali untuk memisahkan kulit ari yang hancur dari daging ebi murni.

6
๐Ÿ“ฆ

Pengemasan Vakum

Dikemas vakum dengan material food-grade untuk menjaga kesegaran selama pengiriman ke seluruh Indonesia.

โšก

Revolusi Mesin Salai

Sebelum masuknya listrik PLN ke Concong Luar, nelayan bergantung penuh pada sinar matahari โ€” cuaca buruk berarti ebi membusuk. Kini, mesin salai dengan elemen pemanas dan kipas blower memungkinkan pengeringan konsisten 24 jam. Nelayan seperti Asman kini dapat meraih pendapatan bersih lebih dari Rp2,5 juta per bulan dan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.

Warisan Kuliner Riau

Olahan Khas Indragiri Hilir

Ebi Udang Kering

Ebi (Udang Kering)

Daging udang merah atau udang rebon segar yang dikupas, dipisahkan kepalanya, lalu dikeringkan. Warna oranye kemerahan alami menjadi tanda keasliannya.

Sentra utama: Kuala Enok & Concong Luar. Digunakan dalam tumis belacan, sayur pare, tumis tauge, hingga sumpia ebi khas Melayu Riau.

Produk Andalan Kami
Amplang Udang

Amplang Udang

Camilan khas daerah berbentuk bulat lonjong, renyah, dan gurih โ€” dibuat dari campuran udang rebon halus dengan tepung tapioka pilihan.

Sangat populer sebagai oleh-oleh hari raya. Sentra produksi di Tembilahan dan pesisir Indragiri Hilir.

Oleh-oleh Khas
Terasi Belacan

Terasi / Belacan

Pasta padat beraroma tajam hasil fermentasi udang rebon. Bumbu dasar masakan Melayu Riau yang tak tergantikan dalam hampir setiap hidangan tradisional.

Diproduksi di sepanjang pesisir Indragiri Hilir dan Bengkalis menggunakan teknik fermentasi tradisional turun-temurun.

Bumbu Tradisional
Perjalanan Panjang

Sejarah Industri Ebi di Riau

  • 1
    Abad ke-6

    Akar Sejarah Wilayah

    Wilayah Indragiri Hilir mulai tercatat secara historis melalui Kerajaan Keritang bercorak Hindu. Suku Duano telah lama menetap di pesisir sebagai pengembara laut dengan kearifan lokal mendalam.

  • 2
    Abad ke-19

    Migrasi & Kekayaan Budaya

    Suku Banjar bermigrasi pasca-penghapusan Kesultanan Banjar oleh Belanda (1859). Mereka membawa teknik pertanian pasang surut dan memperkaya tradisi pengolahan pangan pesisir.

  • 3
    1898 โ€“ 1904

    Ekspor Ebi Melonjak

    Volume ekspor udang kering dari Riau melonjak dari 0,1 juta kg menjadi 0,2 juta kg per tahun โ€” membuktikan posisi wilayah ini sebagai lumbung pangan laut di Selat Malaka.

  • 4
    1965

    Status Kabupaten Resmi

    UU No. 6 Tahun 1965 menetapkan Indragiri Hilir sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II yang mandiri, memperkuat fondasi ekonomi dan pemerintahan lokal.

  • 5
    2011

    Kajian Ilmiah IPB

    Akademisi dari Institut Pertanian Bogor mendokumentasikan teknik pengolahan ebi di Tanah Merah โ€” sederhana namun berpotensi besar jika didukung standar mutu yang sistematis.

  • 6
    Era PLN

    Revolusi Mesin Salai

    Masuknya jaringan listrik PLN ke Concong Luar mengubah segalanya. Mesin salai memangkas pengeringan dari 8 hari menjadi hitungan jam โ€” pendapatan dan kualitas hidup nelayan melonjak.

  • 7
    2010

    Ebi Nusantara Berdiri

    Berawal dari kecintaan terhadap warisan laut Indragiri Hilir, kami membangun usaha yang menghormati tradisi Suku Duano dan membawa ebi berkualitas ke seluruh nusantara.

โ™ป๏ธ

Zero-Waste dari Kuala Enok

๐Ÿ’ง Koagulan penjernih air bersih
๐Ÿ’„ Bahan baku industri kosmetik
๐Ÿ›ก๏ธ Pengawet makanan alami antimikroba
๐Ÿงช Membran pemurni industri makanan
๐ŸŒฟ
Inovasi Berkelanjutan

Limbah Jadi Nilai Tambah

Pertumbuhan industri ebi tak hanya mengangkat kesejahteraan nelayan, tapi juga menghasilkan limbah cangkang udang yang melimpah. Di Desa Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, para ilmuwan menemukan solusinya.

Cangkang udang rebon kaya akan kitin โ€” polimer biologis berbasis nitrogen โ€” yang dapat diolah menjadi kitosan bermutu tinggi. Kitosan ini berguna sebagai penjernih air, bahan kosmetik, hingga pengawet makanan alami.

Inovasi ini mewujudkan konsep zero-waste di Indragiri Hilir โ€” menyelesaikan tantangan pencemaran estuari sekaligus membuka peluang industri baru yang bernilai tinggi bagi masyarakat pesisir.

Masa Depan Industri

Komitmen & Tantangan Kami

๐Ÿ”ฅ

Risiko Kebakaran Pesisir

Kebakaran di Pasar Concong Luar awal 2026 menghanguskan 26โ€“33 bangunan gudang ebi. Kami aktif mendorong standarisasi instalasi listrik dan zonasi pergudangan yang aman di komunitas nelayan.

๐ŸŒŠ

Ancaman Ekologi Pesisir

Abrasi pantai dan intrusi air laut di Kuala Indragiri mengancam ekosistem mangrove sebagai habitat alami udang rebon. Kami mendukung perlindungan mangrove dan praktik tangkap yang lestari.

๐Ÿค

Kemitraan Langsung Nelayan

Bermitra langsung dengan nelayan Suku Duano di Concong Luar dan Kuala Enok โ€” tanpa perantara. Pendapatan bersih nelayan mitra kami melampaui Rp2,5 juta per bulan.

๐Ÿ“

Standarisasi Mutu Produk

Mengacu kajian IPB (2011), kami menerapkan seleksi ketat: kebersihan, aroma, warna, dan ukuran ebi sebelum dikemas โ€” agar umur simpan produk optimal di tangan konsumen.

๐Ÿฆ